Mari Kita Mulai Renungan Mikrolet

29 03 2011

Saya proudly announced that saya suka menulis. Masalahnya saya terkategorikan sebagai penulis moody yang hampir mendekati pemalas. Sering banget tiba2 terlintas sesuatu yang menarik buat saya tulis, lalu pas benar2 siap akan menuliskannya, it all vanishes completely. Nggak tahu juga kenapa, tapi begitulah keadaannya.

Mungkin karena kemampuan saya mendeskripsikan sesuatu ada di bawah rata2, mungkin karena kemampuan saya mengingat sesuatu juga tergerus dengan kemampuan saya melupakan sesuatu yang tidak saya suka, mungkin karena saya terlalu malas untuk berusaha mengurutkan frame by frame pengalaman yang pernah saya lewati.

Saya suka menulis, tapi mood saya akui amat mengontrol tulisan saya, baik gaya, konten, ataupun pesan yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Makanya, saya nggak pernah tertarik ikutan dalam lomba blog yang bertema ataupun kontes SEO. Pengen mungkin pernah, tapi hasilnya kok selalu ga jelas. Entahlah..

Dan kenapa postingan ini ada embel2nya renungan mikrolet, ya karena saya nulisnya di mikrolet (+bus) ketika perjalanan pulang dari kantor.

Banyak banget kejadian yang saya lihat dalam perjalanan pulang dari sigura2 sampai ke batu. Rute saya yang itu2 aja, sigura2 – dinoyo – landungsari – terminal batu – tmp – rumah, menawarkan berbagai footage yang selalu berubah-ubah setiap harinya, nggak pernah sama. Kadang mengharukan, kadang menjengkelkan, tapi semua selalu memberikan sebuah wawasan pada saya: apalah arti sebuah ‘saya’ di dunia ini tanpa orang2 lainnya.

Contohnya, saya selalu ketemu sama penjual jajanan di terminal landungsari. Tepat di halte bus. Orangnya udah tua, rambutnya beruban, kulit wajahnya udah keriput. Dan saya selalu terharu melihatnya, udah tua, masih kudu jualan kue, yang saya tahu hasilnya pasti nggak seberapa. Lalu apa yang harus saya lakukan? Beli jajannya? Mungkin saya akan beli, tapi juga ga tiap hari. Lalu apa? Dan saya pasti pun ingat kata2 sahabat saya SMA yang namanya Izza: “semuanya udah diatur rezekinya sendiri2 sama Allah.” Lalu akhirnya saya akan berhenti memikirkan orang itu dan hanya berdoa “semoga rezekimu lancar hari ini hai pak tua.” Saya mungkin hanya bisa bantu doa atau beli kue kadang2, tapi saya yakin Allah yang Maha Adil yang akan selalu menjaganya dari kekurangan.

05.50 pm. Lokasi: Areng2

Busnya melaju cepat, cocok deh, saya udah lapar dan dari tadi kebau2an indomie telor.

Posted with WhiteNophBerry


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: