Satu Dua Lamppost Hidup, Sisanya Mati

15 08 2010

“Coba kau ingat apa yang pernah kubilang soal perbedaan”
katanya pada sang kawan.
“Saat itu kau bilang perbedaan itu menakutkan.
Dan perbedaan itu yang banyak merusak tatanan,
apapun itu.”
Dia terdiam, kawannya hanya memandang kosong
jauh melintasi boulevard yang temaram dan satu dua lamppost yang hidup
sisanya mati.

“Saat itu aku menertawakanmu,
menepis kata-katamu dengan ringan maksudku.
(Kapan aku pernah menertawakanmu kawan? Aku hanya ingin membuatmu tertawa bersamaku)
Dan dengan riang aku berkata sebaliknya.”
Dia kembali terdiam kali ini dengan diiringi hembusan nafas panjang
yang terasa amat berat dan penuh.
Sang kawan tetap seperti semula, hanya memandang kosong
jauh melintasi boulevard yang temaram dan satu dua lamppost yang hidup
sisanya mati.

“Dengan jujur aku ngaku sekarang aku merasa takut kawan…”
Dan kalimatnya menggantung.
Kali ini sang kawan berdehem, clearing his throat, dan kembali memandang kosong
jauh melintasi boulevard yang temaram dan satu dua lamppost yang hidup
sisanya mati.

Dan baju badut dan sayup-sayup lagu Radiohead Fake Plastic Trees terdengar.

“If I could be who you wanted
If I could be who you wanted
All the time, all the time”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: