Burung Hitam Punya Rendra

24 07 2010

Saya sebenarnya tidak seberapa suka WS Rendra. Yang saya tahu tentang Rendra saat itu adalah puisinya keras, menantang, dan cenderung marah-marah. Makanya, saya jadi nggak suka. Bukan apa-apa, tapi saya jadi takut gara-gara merasa dimarahin.. geje sih alasannya, tapi ya emang gitu sih. Tapi, saat saya baca buku kumpulan puisinya Rendra yang saya dapat gratisan seperti saya ceritakan beberapa waktu lalu di sini, saya jadi berpikiran lain.

Ternyata nggak semua puisinya Rendra yang marah-marah. Ternyata puisinya Rendra yang memang lugas itu banyak yang bercerita tentang cinta dan kehidupan yang nggak semuanya harus mengumbar emosi duar duar.. Saya yang memang nggak tahu dan begitu saja men-judge Rendra suka marah-marah. Dan saya ngaku saya salah… [Tapi sebenarnya bukan saya saja lho yang merasakan hal itu. Tadi saya juga omong-omongan sama temen saya yang gondrong dan mancung – hayo sapa? – dan dia juga setuju sama saya kalau Rendra kelihatan suka marah-marah. Saya bilang sebenarnya saya lebih suka Sapardi Djoko Damono yang puisinya menyentuh-menyentuh gitu. Dia bilang iya, memang terasa enak-enak gimanaaaa gitu, kesannya romantis. Haha, bayangkan saja teman saya itu tampangnya sangar: rambutnya gondrong dan kriwil, sukanya cemberut kalau gag pas ketawa (yo mesti taah), tapi sukanya yang romantis-romantis –> tampang Rambo hati Rinto] Jadi saya terus baca buku ini, dan sekarang memang masih sampai di bagian pertama, Malam Stanza. Tapi ada satu puisi yang amat saya suka. Apakah itu? Ini lho puisinyaaa…

Burung Hitam

Burung hitam manis dari hatiku
betapa cekatan dan rindu sepi syahdu.
Burung hitam adalah buah pohonan.
Burung hitam di dada adalah bebungaan.
Ia minum pada kali yang disayang
ia tidur di daunan bergoyang.
Ia bukanlah dari duka meski ia burung hitam.
Burung hitam adalah cintaku padamu yang terpendam.

Lalalala entahlah kenapa sangat menyenangkan saat membaca puisi ini. Bagian terfavorit saya adalah: “Ia bukanlah dari duka meski ia burung hitam. Burung hitam adalah cintaku padamu yang terpendam.” Kerennyaaaah….

Dan saya bukannya mau membicarakan soal interpretasi puisi ini, biarkan ada di dalam otak saya sendiri. Punya kamu juga biar tersimpan di otakmu sendiri. Karena saya yakin setiap orang punya kesan dan pengertian mereka sendiri-sendiri mengenai sebuah tulisan, entah itu puisi, novel, cerpen, bahkan coretan awut-awutan.


Actions

Information

2 responses

7 08 2010
Maren Kitatau

Cinta terpendam menjadi hitam
Cinta berserah menjadi merah
Cinta itu putih sungguhnya
Kali …!

Salam Damai!

8 08 2010
nophindahoz

🙂 saya speechless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: