Dan Semoga ‘Stanza dan Blues’ Ini Menjadi Awalnya…

12 07 2010

“Nama Rendra sudah menjadi semacam mitos dalam ranah sastra Indonesia. Gebrakannya dalam kemunculan puisi-puisi baladanya, atau teater ‘mini kata’-nya, atau puisi-puisi pamfletnya seakan menjadi penanda kegairahan dunia sastra di Indonesia.

Buku ini menangkup sajak-sajak terbaik Rendra sehingga pembaca bisa dengan mudah menemukan sajak yang dikenal luas. Pembaca juga akan mendapati jejak kreativitas Rendra di dalamnya.”

Itu sebagian tulisan yang ada di belakang sampul buku “Stanza dan Blues” yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada 2010 ini. Dan bisa jadi itu sudah menjadi daya tarik tersendiri buat para pecinta puisi dan WS Rendra pada khususnya.

Bukan, saya bukan akan mereview buku ini. Bukan. Cuma saya ingin mengisahkan bagaimana saya mendapatkan buku ini dan harapan saya ke depannya dalam kehidupan saya dengan adanya buku ini. Ahaai.. sounds so random, tapi biarkan saya menyelesaikan cerita saya.

Saya anak Sastra, tapi sudah beberapa tahun terakhir ini saya tidak pernah membaca, dan ironisnya, saya tidak punya nafsu lagi untuk membaca. Mungkin karena saya terlarut dalam kesibukan duniawi, yang ngerjain ini lah, ngurusin itu lah, mau gini lah, mau gitu lah, sampai nggak ada waktu untuk sekedar duduk atau leyeh-leyeh sambil memegang buku, membolak-balik halamannya dan meresapi apa yang tertulis di atas kertas itu.

Ketika sibuk mengerjakan #skripsifak, saya sadar, sudah banyak hal-hal yang dulu saya pelajari di kelas yang sudah mulai kabur dari memori otak saya. DAN SAYA NGGAK MAU ITU TERJADI! Bahkan puisi-puisi yang dulu terus saya ingat karena saya suka ataupun karena saya merasa mengalaminya sudah mulai saya lupakan. Sampai-sampai saya pun nggak ingat kenapa saya memilih Sastra Inggris sebagai jurusan kuliah saya.

Dan tiba-tiba saya bertemu seseorang yang membuat saya tidak malu menunjukkan ‘kesastraan’ saya. Saya mulai melihat sesuatu menjadi bak bait-bait puisi dan narasi yang membosankan sehari-hari pun terasa seperti alunan rima prosa yang indah. Semuanya bisa diapresiasi lagi.

Ketika #skripsifak saya selesai, saya juga sering berdiskusi dengan mas f di kantor. Dan karena dia juga lulusan sekolah bahasa, nyambung sekali saat berbicara mengenai puisi ataupun karya sastra lainnya. Dan saat itu kami membahas soal Jabberwocky. Dan mungkin inilah sebuah trigger yang membangkitkan kecintaan saya yang sepenuhnya terhadap sastra.

Lalu tiba-tiba saja Arik, salah satu teman dekat saya yang saya kenal di Twitter dengan nama @moonstomper, menyebut-nyebut soal Alfred, Lord Tennyson dengan puisinya yang judulnya The Charge of the Light Brigade. Dan seperti sebuah electric shock.. saya jadi teringat puisi Lord Tennyson yang benar-benar saya suka, Crossing the Bar.

Dan saat itulah seketika, saya ingat kenapa saya memilih Sastra Inggris sebagai jurusan pilihan saya, bukan Pendidikan Bahasa Inggris, bukan Teknik Sipil, bukan Teknik Arsitektur, bukan Akuntansi, bukan Manajemen, bukan pula konsentrasi Linguistic, tapi Sastra Inggris, Literature! Saya tahu, saya ingat, dan apakah itu? KARENA SAYA CINTA SASTRA! I JUST LOVE IT! That’s it, that’s all.

Lalu saya akhirnya ingin sekali membaca lagi.. apa saja! Boleh komik, boleh kumpulan puisi, boleh novel, boleh kertas-kertas aneh yang bertebaran.. apa saja. Saya mau hobi membaca saya kembali! Dan saya dipinjami buku RAHIM sama temen kantor saya, Tacik Ayang alias @bee_is_cute. Sampai sekarang masih terbaca dua bab, tapi nggak apa-apa, pokoknya udah berusaha. To be honest, membuat hobi membaca ini kembali seperti dulu lagi ternyata bukan usaha yang gampang. Fyuh..

Kemudian, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dan hanya ada saya saja, akhirnyaaaa… saya ditugaskan meliput acara Nonton Bareng film 3 HATI DUA DUNIA SATU CINTA di Matos 21. Sebenarnya meliputnya dengan setengah hati karena itu adalah hari Sabtu, di mana aku libur dan pagi-pagi harusnya aku masih tidur. Tapi jam setengah sembilan aku harus udah berangkat ke Matos sama Mas Fajar alias @fajar_mcxoem. Tapi entahlah, sepertinya memang ada dorongan untuk ngeliput.. lagian nonton gratisan ginih.. hahaha..

Akhirnya, saya dan Mas Fajar pun datang di acara nobar yang disponsori oleh Telkomsel itu. Filmnya, cukup menarik. Yang lebih menarik sih sebenarnya si Reza Rahadian yang jadi Arab Kribo di situ, GANTENG ABIS! Lalu, ternyata ada preskon media di The Terrace setelah itu. Kami pun datang ke sana. Dan tararaaaaa…. mendapatkan goodie bag yang berisi: CD Soundtrack 3 HATI DUA DUNIA SATU CINTA, pin, flyer, press release, dan buku STANZA DAN BLUES.

Waw! Betapa girangnya hati saya. Saya mendapatkan buku di saat saya sedang berusaha menumbuhkan lagi kegemaran saya membaca! Apalagi, ini buku kumpulan puisi! Saya kan lagi tergila-gila sama puisi! OMG, Alhamdulilah, thanks God, Subhanallah, apapun itu lah, karena telah mendukung niat saya yang mulia lalalalaa…

Sebenarnya memang di film ini, Reza itu diceritakan sebagai seorang penyair yang tergila-gila sama karya Rendra. Dan sajak berjudul Kangen, Surat Kepada Bunda, dan Kupanggil Namamu juga dibacakan dalam film yang menceritakan soal perbedaan ini.

Yang pasti, ‘Stanza dan Blues’ ini akan menjadi sebuah tonggak penopang niat saya untuk terus membaca dan mempelajari sastra. Saya memang harus terus belajar agar tidak lupa niat awal saya. Penyakit lupa adalah virus yang mematikan otak.

Dan semoga.. ‘Stanza dan Blues’ ini menjadi awalnya…

nih hadiahnya

Isinya goodie bag


Actions

Information

9 responses

12 07 2010
nengbiker

pek, njaluk kaose

12 07 2010
nophindahoz

krik krik kriiiik.. mek duwe siji dijauk rek… hiks hiks…

12 07 2010
mazmuz

nampir aja ni

12 07 2010
fajarmcxoem

kaosku kuberikan tetanggaku
pinku kuberikan si bunga bukan nama sebenarnya
tinggal bukune thok, tapi bagus bukunya..
Semoga kita menjadi Rendra Rendra selanjutnya..

13 07 2010
nophindahoz

hadah.. kandani bunga wes gag usum.. saiki usume Luna Maya.. wkwkwk… iyah, bukunya masih kubaca beberapa halaman… hmmmm… tapi aku yakin ancen bagus…

13 07 2010
nengbiker

HAH kok itu kaosna mesum ga dikasiin aku aja sih, huhuhuhu

13 07 2010
nophindahoz

wkwkwkw… mas mesuuumm.. iku loooo dinjuk ambek mbak neng… wkwkwkwk

24 07 2010
Burung Hitam Punya Rendra « Blognya Nophindahoz

[…] buku kumpulan puisinya Rendra yang saya dapat gratisan seperti saya ceritakan beberapa waktu lalu di sini, saya jadi berpikiran […]

1 06 2011
Burung Hitam Punya Rendra | nophindahoz.com Burung Hitam Punya Rendra | .think.write.share.respond.

[…] buku kumpulan puisinya Rendra yang saya dapat gratisan seperti saya ceritakan beberapa waktu lalu di sini, saya jadi berpikiran […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: