Mengolah Kata yang Tak Gampang

1 03 2009

Mencoba merangkai kata-kata. Mengingat-ingat apa saja yang ingin dicurahkan di atas tabula rasa. Dari mulai saat duduk di depan komputer kantor, segala pemikiran dan perasaan yang ada – semangat, malas, tak suka, lucu, konyol, sebel, kesepian, sendiri, diperhatikan, dicueki, dipercaya, diremehkan – sampai saat dijemput, merasa disayangi, melewati jalan yang sama tapi kesannya tak selalu sama dengan orang-orang, suasana, jam, keadaan yang tak sama, dan melewati ATM yang pintunya entah kenapa selalu terbuka sekarang ini, entah rusak, entah sengaja dibuka agar di dalamnya tak terasa sebeku kamar mayat, sampai berada di rumah dengan segala kenyamanan, keramaian, keunikan, kekonyolan, kemalasan, sayang, cinta, kehangatan… dan duduk di depan komputer pribadi yang tak lagi pribadi karena berbagi dengan adikku…

Perasaan-perasaan yang selalu sama, itu-itu saja, tapi kesannya tak pernah sama karena terjadi di tempat, di waktu, di keadaan, pada orang yang selalu berbeda permutasi dan kombinasinya. Entah kenapa pada waktu datang bulan selalu perasaanku menjadi lebih sensitif dari biasanya hingga rasa-rasa yang biasanya juga sekedar lewat bisa amat terukir dalam di otakku.

Kesukaan dan ketidaksukaanku tak lagi bisa dianggap penting di dalam kehidupan sekarang. Semakin lama duniaku semakin luas dengan orang-orang yang semakin bertambah banyak, beraneka ragam, dengan pemikiran yang kadang tak pernah kumengerti walau sudah berusaha begitu keras. Percuma berusaha membuat mereka juga mencoba mengerti karena toh jarang ada yang benar-benar peduli, jadi kenapa juga harus membuang energi untuk benar-benar peduli.

Kadang benar-benar ingin membuka bungkus dan menunjukkan beginilah sebenarnya yang tidak pernah dilihat dengan mata telanjang. Namun terlalu lelah berusaha ternyata membuat sel abu-abu otak berhenti berjalan, jadi numb. Mungkin memang pantas meremehkan karena belum benar-benar mengenal, dan tak kenal maka tak sayang kan? Atau mungkin sudah ilfil duluan untuk mencoba lebih kenal, ya udah nggak perlu repot-repot. Tak ada yang memaksa untuk benar-benar mengenal, karena kalau sudah saatnya dikenal pasti akan tahu sendiri.

Benar memang kata guru-guru dulu kalau kehidupan di dunia itu jauh lebih keras, amat-amat lebih keras, berkali-kali lebih keras dari dunia sekolah, bahkan kuliah yang katanya amat individualis itu. Tak ada nilai yang tercatat di sebuah buku rapor atau lembaran kertas berisi IP di mana kita bisa melihatnya sebagai sebuah cerminan mana yang harus diperbaiki mana yang harus dipertahankan mana yang harus ditinggalkan mana yang harus dikejar. Tak ada gunanya juga meminta semuanya untuk jujur berkata begini jangan begitu, itu bukan ini, a bukan b karena kita diberi otak untuk terus berpikir dan memilih tanpa diberi tahu mana pilihan yang benar dan mana yang benar-benar bukan pilihan.

Kadang itulah gunanya punya seseorang yang benar-benar dekat walau kalau dipikir juga nggak terlalu dekat. Sebagai sandaran sesaat saat benar-benar merasa tertekan, ditekan, menekankan walau gagal. Yang bisa membuat tersenyum, cekikikan, bahkan tertawa, menertawakan hal yang nggak penting, atau mungkin penting tapi bisa ditertawakan tanpa mengikis stuff kepentingannya. Merasa dipikirkan, walau entah memang dipikirkan seperti aku memikirkannya atau tidak, mencoba menatap masa depan yang jujur belum pernah terpikirkan akan benar-benar seperti apa.

Sempat terpikir jika kehidupan yang dulu terasa lebih baik dibanding yang sekarang. Nampaknya dulu itu benar-benar terarah, benar-benar disayang, benar-benar dipikirkan. Aku tahu apa yang dikerjakan dan aku mengerjakan apa juga diketahui, walau mungkin ternyata mudah sekali ditinggalkan dan dibuang. Jadi sebenarnya itu juga superfisial, mending seperti sekarang kalau ternyata malah berhasil karena tidak terlalu menjadi beban.

Aah… beginilah jadinya kalau berniat ingin cerita tapi tak bisa mengurai kata-kata. Ingin menjelaskan yang bergejolak di otak, di hati, di dada, di perut, membuat tenggorokan tercekat dan mata berkaca-kaca walau yang keluar malah seringai dan sunggingan kecil seperti meremehkan yang terjadi. Bukannya aku tidak memikirkan, tapi aku rasa aku nggak sanggup memikirkan, jadi biarlah saja. Aku tahu jika tiba waktuku aku bisa bahagia… Kalimat klise yang selalu kuulang-ulang, tapi kekuatan percaya – katanya – incredible, jadi ya aku percaya kok memang ada saatnya untuk itu.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: